Kinerja Baik Industri Farmasi dan Koreksi Harga Obat-obatan

Produksi industri manufaktur besar dan sedang di 2016 mencatatkan kinerja yang positif. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan secara tahunan, atau year-on-year, industri ini berhasil naik 4 persen dibandingkan produksi tahun 2015.

Pada skala besar, industri farmasi tumbuh paling tinggi. Sementara pada skala yang lebih kecil, pertumbuhan dimotori oleh sektor teknologi komputer. Industri mikro dan kecil pun mengalami pertumbuhan produksi sebanyak 5,78 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto, menyebut kenaikan sektor industri ini akan memengaruhi angka pertumbuhan ekonomi yang akan dirilis pada Februari.

Dari data BPS terlihat industri farmasi, produk obat kimia, dan obat sebagai penyumbang tertinggi pada kenaikan produksi industri manufaktur besar dan sedang, dengan kenaikan sebesar 8,01 persen.

Kemudian disusul dengan industri kulit, barang, dan alas kaki yang juga naik 7,62 persen, industri makanan naik 6,26 persen. "Yang perlu mendapat perhatian adalah industri makanan. Karena, share terbesar nya itu adalah industri makanan, bobotnya 27,13 persen," ujar Suhariyanto dalam KOMPAS.com.

Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah industri karet, barang dari karet dan plastik, sebesar 8,39 persen, industri peralatan listrik sebesar 7,49 persen, dan industri pakaian jadi sebesar 7,15 turun.

Provinsi penyumbang kenaikan juga menarik, karena keseluruhannya berada di luar Jawa. Tiga provinsi dengan kenaikan tertinggi antara lain, Lampung dengan 17,96 persen, Jambi dengan 11,33 persen, dan Sulawesi Barat dengan 6,21 persen.

Sementara provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Aceh dengan 21,43 persen, Sumatera Selatan dengan 15,11 persen, dan Sumatera Utara dengan 13,45 persen.

Di sisi lain, untuk produksi industri manufaktur mikro dan kecil, penyumbang terbesarnya adalah kenaikan produksi pada industri komputer, barang elektronik, dan optik sebesar 43,71 persen, industri mesin dan perlengkapan naik sebesar 25,98 persen, dan industri kertas dan barang dari kertas naik 25,49 persen.

Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pengolahan tembakau turun 27,91 persen, industri peralatan listrik turun 15,56 persen, dan industri obat-obatan tradisional sebesar 12,57 persen.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Kalimantan Utara naik 38,19 persen, Nusa Tenggara Timur naik 33,26 persen, dan Maluku Utara naik 25,56 persen.

Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan produksi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 14,70 persen, Provinsi Aceh turun 8,93 persen, dan Kepulauan Bangka Belitung turun 8,06 persen.

Produksi obat berbanding terbalik dengan harga

Meski produksi industri farmasi relatif tertinggi dan menyumbang kenaikan industri besar dan sedang, namun harga obat, khususnya generik, belum dapat menutup biaya produksi.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi, F. Tirto Kusnady, mengatakan tren harga setiap kali tender terus menunjukkan penurunan. Hal ini menyebabkan setiap perusahaan akan berusaha menekan harga agar bisa terus bersaing.

"Dengan dimulainya BPJS, sudah jelas sekali bahwa kebutuhan obat begitu banyak karena lingkup BPJS sangat luas sehingga yang dikejar adalah volume, sebut Tirto pada Bisnis, Kamis (27/1/2017).

Menurut Tirto, secara volume, obat generik saat ini produksinya sudah jauh lebih banyak ketimbang obat paten, tetapi nilai penjualannya masih sekitar 30 persen dari total penjualan obat. Pada 2013, obat generik 100 persen digunakan untuk kebutuhan JKN, sementara pada 2014-2015 obat paten mengalami kenaikan porsi menjadi 25 persen dan 34 persen.(beritagar.id)

Pengunjung

003061038
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Semuanya
445
1170
1615
1476272
47312
40590
3061038
IP Anda: 54.158.248.167
2017-09-25 05:47
Premium Joomla Templates